Mengelola stok barang merupakan salah satu tantangan terbesar bagi pelaku UMKM. Banyak usaha kecil mengalami kerugian bukan karena produk mereka tidak laku, tetapi karena stok tidak terkontrol dengan baik. Mulai dari barang menumpuk di gudang, barang rusak karena terlalu lama disimpan, hingga kekurangan stok di saat permintaan sedang tinggi. Semua ini dapat mempengaruhi arus kas dan profit usaha. Karena itu, pengelolaan stok menjadi hal yang sangat penting agar UMKM tetap efisien dan mengurangi risiko kerugian.
Salah satu langkah awal dalam manajemen stok adalah melakukan pencatatan secara teratur. Banyak UMKM masih mengandalkan pencatatan manual yang seringkali menimbulkan kesalahan. Dengan menggunakan aplikasi sederhana seperti spreadsheet atau software kasir, pemilik usaha dapat mengetahui stok masuk, keluar, serta stok yang harus segera dibeli ulang. Pencatatan yang rapi juga membantu menganalisis pola penjualan tiap bulan, sehingga perencanaan stok dapat lebih akurat.
Selain itu, pemilik UMKM perlu menerapkan prinsip FIFO (First In, First Out). Metode ini memastikan barang yang pertama kali masuk adalah barang yang pertama kali dijual. Cara ini sangat efektif untuk mencegah barang kadaluwarsa atau rusak akibat terlalu lama disimpan. FIFO sangat penting terutama bagi usaha yang bergerak di bidang makanan, minuman, kosmetik, atau produk yang memiliki masa kedaluwarsa jelas.
Pengelolaan stok yang baik juga harus mempertimbangkan perputaran barang (turnover). Produk yang cepat laku tentu harus disediakan dalam jumlah lebih banyak. Sebaliknya, produk yang jarang terjual sebaiknya dikurangi, bahkan dievaluasi apakah masih layak dipertahankan dalam katalog. Analisis perputaran ini membantu UMKM memaksimalkan ruang gudang dan meminimalkan modal yang tertahan pada barang yang kurang produktif.
Kemudian, jangan lupakan pentingnya mengatur reorder point, yaitu batas minimal stok yang harus dimiliki sebelum pemilik usaha melakukan pembelian ulang. Dengan adanya titik batas ini, UMKM dapat menghindari kehabisan barang di tengah permintaan tinggi. Reorder point dapat dihitung berdasarkan rata-rata penjualan harian dan waktu yang dibutuhkan pemasok untuk mengirim barang.
Terakhir, komunikasi yang baik dengan pemasok juga menjadi bagian penting dalam manajemen stok. Pemasok yang responsif dan konsisten akan membantu UMKM mendapatkan pasokan tepat waktu. Selain itu, hubungan baik memungkinkan negosiasi harga atau sistem pembayaran yang lebih fleksibel sehingga modal usaha dapat berputar lebih optimal.
Mengelola stok memang membutuhkan kedisiplinan dan strategi. Namun, ketika UMKM mampu menerapkannya dengan benar, risiko kerugian dapat ditekan secara signifikan. Dengan stok yang sehat, usaha menjadi lebih efisien, penjualan stabil, dan keuntungan meningkat. Manajemen stok bukan hanya tugas administratif, tetapi fondasi penting bagi pertumbuhan UMKM dalam jangka panjang.












