Ada masa ketika kata “stabil” terasa begitu asing bagi pelaku usaha kecil. Harga bahan baku naik turun tanpa aba-aba, daya beli masyarakat bergerak seperti ombak yang sulit ditebak, sementara arus informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mencerna. Dalam situasi semacam ini, UMKM sering kali berdiri di persimpangan: antara bertahan dengan cara lama atau menyesuaikan diri dengan realitas baru yang belum sepenuhnya dipahami.
Saya sering berpikir bahwa ketidakstabilan pasar bukan sekadar persoalan angka atau grafik. Ia adalah kondisi psikologis yang merembes ke cara pengusaha kecil mengambil keputusan sehari-hari. Ketika ketidakpastian menjadi latar, rasa ragu kerap menyertai setiap langkah. Namun justru di sanalah strategi tidak lagi bisa dipahami sebagai rencana besar semata, melainkan sebagai kebiasaan berpikir yang terus dilatih.
Dalam pengamatan sederhana terhadap UMKM di berbagai sektor, terlihat pola yang menarik. Mereka yang mampu bertahan biasanya bukan yang paling besar modalnya, melainkan yang paling lentur cara pandangnya. Fleksibilitas menjadi semacam mata uang baru. Bukan hanya dalam produk, tetapi juga dalam cara membaca situasi, mendengar pelanggan, dan menerima perubahan tanpa perlawanan berlebihan.
Secara analitis, kondisi pasar yang tidak stabil memaksa UMKM untuk meninjau ulang asumsi lama. Misalnya, anggapan bahwa permintaan akan selalu tumbuh atau pelanggan akan setia tanpa usaha ekstra. Ketika realitas membantah asumsi-asumsi itu, strategi bertahan dimulai dari kesediaan untuk merapikan ulang fondasi: arus kas, struktur biaya, dan prioritas bisnis. Tidak selalu ada ruang untuk ekspansi, tetapi selalu ada ruang untuk efisiensi yang lebih cermat.
Di sisi lain, ada cerita-cerita kecil yang jarang tercatat dalam laporan bisnis. Seorang pemilik warung yang mengurangi variasi menu demi menjaga kualitas dan biaya. Seorang pengrajin yang memilih melayani pesanan khusus ketimbang memproduksi massal. Narasi-narasi semacam ini menunjukkan bahwa strategi UMKM sering kali lahir dari percakapan sehari-hari, bukan dari ruang rapat formal. Keputusan diambil sambil menimbang risiko dengan naluri yang diasah oleh pengalaman.
Argumentasi yang kerap muncul adalah bahwa digitalisasi menjadi jawaban atas semua masalah. Namun kenyataannya lebih berlapis. Digitalisasi memang membuka peluang, tetapi tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Bagi UMKM, strategi digital yang relevan bukan sekadar hadir di media sosial, melainkan memahami bagaimana teknologi dapat menyederhanakan proses, memperluas jangkauan secara terukur, dan tetap selaras dengan kapasitas usaha.
Jika ditarik lebih dalam, bertahan di pasar tidak stabil berarti memahami pelanggan pada tingkat yang lebih manusiawi. Observasi terhadap perubahan perilaku konsumen menunjukkan bahwa mereka kini lebih berhati-hati, lebih selektif, dan lebih menghargai nilai daripada sekadar harga. UMKM yang peka membaca perubahan ini cenderung menyesuaikan narasi produknya: dari sekadar menjual barang menjadi menawarkan solusi atau pengalaman yang relevan dengan kebutuhan nyata.
Transisi menuju pola pikir semacam itu tidak selalu mulus. Ada fase canggung ketika strategi lama ditinggalkan, sementara yang baru belum sepenuhnya terbentuk. Di sinilah refleksi menjadi penting. UMKM yang meluangkan waktu untuk mengevaluasi apa yang benar-benar bekerja dan apa yang hanya kebiasaan lama sering kali menemukan ruang pertumbuhan yang tak terduga. Pertumbuhan tidak selalu berarti bertambah besar; kadang ia berarti menjadi lebih sehat.
Dari sudut pandang manajemen sederhana, pengelolaan arus kas menjadi jangkar utama. Dalam kondisi tidak stabil, likuiditas adalah napas. Banyak UMKM yang akhirnya menyadari bahwa pertumbuhan tanpa kontrol keuangan justru memperbesar risiko. Strategi bertahan pun bergeser ke arah disiplin: memisahkan keuangan pribadi dan usaha, menunda pengeluaran yang tidak mendesak, dan menyusun cadangan meski kecil.
Namun, strategi tidak hanya soal bertahan. Ada dimensi lain yang sering luput, yaitu keberanian untuk bertumbuh secara selektif. Di tengah pasar yang goyah, peluang masih ada, meski tersembunyi. UMKM yang mampu mengidentifikasi ceruk pasar, memanfaatkan kolaborasi lokal, atau mengembangkan produk turunan sering kali menemukan jalur pertumbuhan yang lebih stabil dibandingkan mengejar pasar luas yang penuh persaingan.
Dalam banyak kasus, jejaring menjadi penopang yang tak terlihat. Relasi dengan pemasok, sesama pelaku usaha, hingga komunitas lokal menciptakan ekosistem saling dukung. Strategi bertahan tidak selalu individual; ia bisa kolektif. Ketika informasi, sumber daya, dan pengalaman dibagikan, ketidakpastian menjadi sedikit lebih bisa dikelola.
Menariknya, pasar yang tidak stabil juga mengajarkan UMKM untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan. Tidak semua rencana berjalan sesuai harapan, dan itu bukan kegagalan mutlak. Sikap adaptif—mencoba, menilai, lalu menyesuaikan—menjadi pola berulang. Dalam proses itu, pelaku UMKM belajar bahwa strategi bukan dokumen statis, melainkan proses yang hidup.
Pada akhirnya, bertahan dan tumbuh di kondisi pasar tidak stabil bukan tentang menemukan satu rumus pasti. Ia lebih mirip perjalanan berpikir yang terus berubah. UMKM yang mampu meluangkan waktu untuk mendengar, merenung, dan merespons dengan tenang biasanya menemukan jalannya sendiri. Bukan jalan yang lurus, tetapi cukup kokoh untuk dilalui.
Mungkin, di situlah letak kekuatan UMKM yang sesungguhnya. Bukan pada skala atau kecepatan, melainkan pada kedekatannya dengan realitas sehari-hari. Dalam ketidakstabilan, mereka belajar untuk tidak tergesa-gesa mencari kepastian, melainkan membangun kesiapan. Dan barangkali, kesiapan itulah bentuk strategi paling relevan di zaman yang terus bergerak ini.












